Friday, February 02, 2007

Mesin Uang Bernama Liga Inggris

Sepak bola, terutama di Eropa, bukan lagi sekadar olahraga hiburan, melainkan telah lama menjadi sebuah industri. Tiket, hak siar, "sponsorship", cendera mata, bahkan katering digarap profesional sehingga menjadi mesin uang bagi sebuah klub.

Sebagai contoh, harga hak siar Liga Inggris dijual dengan harga selangit. Seperti dikutip AFP, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) mengumumkan telah menjual hak siar televisi di luar Inggris Raya dan Irlandia senilai 625 juta poundsterling atau sekitar 1,23 miliar dollar AS. Dengan kurs Rp 9.000 per dollar AS, nilai itu sekitar Rp 10,8 triliun. Kontrak ini untuk tiga musim, mulai 2007/ 2008 hingga 2009/2010.

Adapun untuk kawasan Inggris Raya dan Irlandia mereka mendapatkan dana 1,7 miliar poundsterling atau sekitar Rp 29 triliun. Jika total hampir Rp 40 triliun harga hak siar Liga Inggris itu digunakan untuk membeli hak siar Liga Indonesia, yang harganya Rp 10 miliar, kira-kira bisa untuk 4.000 tahun!

Namun, hak siar hanya satu dari sekian banyak sumber pendapatan klub. Masih ada sumber lain, terutama dari penjualan tiket dan cendera mata. Berikut klub-klub Inggris yang berada di daftar 10 besar klub terkaya dunia dan sumber pendapatan mereka.

Manchester United

Klub ini telah mengeluarkan laporan keuangan pertama sejak klub tersebut diambil alih miliarder asal Amerika Serikat, Malcolm Glazer, yang mengindikasikan peningkatan keuntungan hingga tiga kali lipat.

Pada laporan tersebut, periode tahun yang berakhir 30 Juni 2006, keuntungan MU mencapai Rp 523 miliar, bertambah Rp 340 miliar dari periode sebelumnya yang hanya Rp 183 miliar.

Peningkatan tersebut cukup dramatis mengingat prestasi MU yang cukup buruk pada periode tersebut. Salah satunya adalah kegagalan mereka lolos dari babak penyisihan grup Liga Champions, yang merupakan prestasi terburuk pada 10 tahun terakhir. "Masa depan sangat menjanjikan," kata Ketua Eksekutif MU David Gill.

Musim ini, MU akan mendapatkan keuntungan lebih banyak lagi dari penjualan hak siar televisi yang baru saja ditandatangani. Selain itu, MU juga mendapatkan tumpahan dana dari sponsor utama sebuah perusahaan asuransi, AIG, yang mencapai Rp 234 miliar per tahun.

Ekspansi 8.000 kursi Old Trafford menjadi 76.000 juga akan membuat keuntungan MU akan meningkat. Harga rata-rata satu tiket pertandingan di "Theatre of Dream" mencapai sekitar 27 poundsterling (Rp 459.000).

Dari analisis lembaga Deloitte tahun 2006, pendapatan MU terbesar berasal dari tiket yang mencapai 42 persen atau senilai Rp 1,1 triliun. Pendapatan dari hak siar 29 persen atau Rp 822 miliar dan bisnis lain, seperti cendera mata dengan jumlah sama, 29 persen.

Namun, pendukung klub berjuluk "Setan Merah" tersebut masih ketar-ketir mengingat klub tersebut terbelit utang hingga lebih dari 600 juta poundsterling (Rp 10,2 triliun). Pengambilalihan MU membutuhkan dana pinjaman mencapai 831 juta poundsterling (Rp 14,1 triliun).

MU tetap merupakan klub terpopuler di dunia dengan fans di seluruh dunia yang diperhitungkan mencapai 75 juta orang. Klub ini juga tetap memegang rekor rata-rata penonton terbanyak di Liga Inggris mencapai 67.900 orang per pertandingan.

Chelsea

Kebangkitan klub London ini tak lepas dari kedatangan multimiliarder Rusia, Roman Abramovich. Investasi besar-besaran untuk pembelian pemain membawa kesuksesan di lapangan, dan sukses ini berlanjut juga pada pendapatan klub yang bermarkas di Stamford Bridge itu.

Pada musim 2004/2005, klub ini berhasil menjadi juara Liga Inggris untuk pertama kali dalam 50 tahun terakhir. Chelsea pun mendaki ke eselon puncak sepak bola Eropa yang berarti juga meningkatnya pemasukan dari berbagai perjanjian komersial yang mereka dapat.

Pada bulan April 2005, Chelsea mengumumkan perjanjian sponsor utama selama lima tahun dengan Samsung senilai Rp 850 miliar. Perusahaan aparel dan alat-alat olahraga Adidas menggantikan Umbro menjadi sponsor teknis dengan membayar dana senilai Rp 204 miliar per tahun.

Pendapatan dari bisnis komersial ditambah cendera mata dan sebagainya itu mencapai sekitar 25 persen dari total pendapatan Chelsea. Pendapatan terbanyak berasal dari tiket pertandingan yang mencapai 37 persen atau senilai Rp 960,6 miliar. Sementara pemasukan dari hak siar mencapai 37 persen atau Rp 941 miliar.

Klub berjuluk "The Blues" ini kini menempati posisi terhormat dalam daftar klub terkaya dunia dengan nilai kekayaan mencapai 149,1 juta poundsterling (Rp 2,5 triliun). Jika kesuksesan di lapangan berlanjut, dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, Chelsea akan segera berada di peringkat ketiga.

Liverpool

Klub ini tidak mengandalkan tiket pertandingan sebagai sumber pendapatan. Stadion Anfield yang relatif kecil serta basis pendukung bukan dari golongan berpunya membuat Liverpool lebih mengandalkan pemasukan dari cendera mata dan hak siar.

Dibandingkan MU dan Chelsea, pendapatan Liverpool dari penjualan tiket relatif lebih kecil. Mereka hanya mendapatkan Rp 521,6 miliar atau sekitar 27 persen dari total pendapatan.

"The Reds" diuntungkan karena mereka banyak mendapatkan siaran langsung hingga pemasukan dari hak siar mencapai 42 persen dari total pendapatan atau mencapai Rp 867 miliar. Citra klub ini juga cukup baik hingga dari cendera mata dan bisnis lain klub ini mendapatkan Rp 651 miliar atau 31 persen dari total pemasukan.

Keberhasilan menjuarai Liga Champions 2005 membuat keuntungan Liverpool melonjak sekitar 30 persen. Liverpool menempati posisi kedelapan daftar klub terkaya dunia dengan kekayaan mencapai 122,4 juta poundsterling (Rp 2,08 triliun).

Arsenal

Prestasi yang tidak menggembirakan membuat Arsenal terperosok ke peringkat 10 daftar klub terkaya dunia dengan kekayaan mencapai Rp 1,95 miliar. Pendapatan mereka terbesar juga dari hak siar yang mencapai Rp 826,1 miliar atau 42 persen dari total pendapatan.

Sementara dari penjualan tiket (Highburry) sebesar Rp 635 miliar atau 32 persen dan bisnis lain mencapai Rp 504 miliar atau 26 persen dari total pendapatan. Kepindahan ke Stadion Emirates yang berkapasitas 60.000 tempat duduk akan melipatgandakan pendapatan klub berjuluk "The Gunners" ini.

0 comments:

  © Blogger template 'Isfahan' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP